Makanan & Konsekuensinya Dengan Iman (Dhimas KPI3A)

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

Latar Belakang Masalah

Menurut hadist riwayat Bukhari secara umum iman adalah sesuatu yang diyakini, diucapkan dan dilakukan. belum lengkap atau dikatakan sempurna iman seseorang jikalau belum ada didalamnya tiga pilar tadi. Diantara tiga pilar keimanan tadi, pilar ketigalah yang umumnya sulit dilaksanakan. Tentulah kita sebagai manusia ingin memiliki tingkat keimanan yang tinggi yang akhirnya berpengaruh pada tingkat ketakwaan kita.

Pelaksanaan pilar ketiga merupakan konsekuensi logis dari pengkuan kita terhadap Allah sebagai Tuhan kita, yaitu dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan yang Allah berikan. Perintah dan larangan merupakan konsep-konsep yang Allah berikan kepada kita manusia. Allah tidak butuh disembah, tanpa disembahpun Allah adalah Tuhan dengan segala sifat-sifatNya. Manusialah yang membutuhkan Allah, dikarenakan manusia lemah dan kurang, manusia membutuhkan tempat berpegang. Manusia mencari pegangan dan didapatinya Allah dengan segala konsep yang Ia turunkan dalam bentuk agama, termasuk didalamnya larangan, perintah, serta konsep-konsep mengenai ke-hidupan.

Salah satu hal yang terlihat kecil atau sepele yang sering kita lakukan sehari-hari adalah makan. Islam telah mengajarkan, menerangkan tentang konsep makan, baik dari segi zatnya, mendapatkannya, mengolahnya, serta cara mengkonsumsinya. Mengapa ini penting, kembali lagi ke konsekuensi logis kita yang merupakan mahluk yang diciptakan. Hampir semua orang tahu bahkan setanpun mengakui bahwa Allah sebagai Tuhannya, pencipta, penguasa, pelindung, pemberi rizeki dll, namun tidak semua orang mau menerima konsekuensi dari pengakuannya. Mereka tahu Allah sebagai Tuhan mereka, namun tidak mau beribadah hanya padaNya. mereka tahu Allah Tuhannya dan memeliki aturan (agama) atas mahluknya.

Allah memberikan konsep makan yang baik, namun jarang bahkan umat yang ada dalam agamaNya sekalipun, melakukan konsep yang telah Ia berikan. Melaksanakan konsep yang telah diberikan berarti kita telah menyempurnakan iman kita, dimana salah satu pilar iman selain diyakini dan dikatakan perlu adanya pembuktian (dilakukan). Ini juga berlaku pada konsep makan yang diberikan Allah.

Tidak terlaksananya aturan mengenai konsep makan dalam kehidupan sehari-hari terjadi, salah satunya diakibatkan oleh ketidaktahuan atau keingintidaktahuan seseorang akan konsep-konsep makan secara Islami, atau bahkan tahu tapi dalam prakteknya tidak dilakukan. Anggapan bahwa makan hanya kegiatan sehari-hari yang mungkin dianggap sepele, namun bila dikaitkan dengan keimanan kita amat besar akibatnya, dikarenakan konsep makannya yang tidak sesuai dengan yang telah Allah tetapkan, berpengaruh pada tingkat keimanannya yang juga otomatis berpengaruh pada tingkat ketakwaannya.

Dikarenakan pentingnya semua aturan Allah khususnya konsep makan terhadap tingkat keimanan kita, maka penulis mencoba mengangkat masalah konsep makan dan kaitannya dengan keimanan. Adapun judul yang penulis angkat adalah manifestasi keimanan dalam kegiatan makan.

Perumusan Masalah

  1. Apa yang menyebabkan kosep makan kita bertentangan dengan konsep yang Allah berikan.

  2. Bagaimanakah pengaruh keimanan seseorang terhadap konsep makannya.

  3. Bagaimanakah konsep makan menurut Islam

Tujuan Penulisan

  1. Untuk memenuhi tugas pengganti UTS mata kuliah Ilmu Kalam.

  2. Untuk mengetahui pengaruh keimanan seseorang terhadap konsep makannya.

  3. Untuk Mengetahui lebih jauh tentang konsep makan menurut Islam.

Manfaat Penulisan

  1. Mengetahui lebih lanjut hubungan antara keimanan dan konsep makan seseorang.

  2. Sebagai sumber literatur atau pengetahuan tentang bagaimana konsep makan menurut Islam

  3. Sebagai pemenuhan atas tugas pengganti UTS mata kuliah Ilmu Kalam.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

Tidak Terlaksananya Konsep Allah.

Tidak terlaksananya konsep-konsep kehidupan yang telah digariskan oleh Islam, khususnya mengenai konsep makan, terjadi karena banyak faktor, diantaranya: pertama, ketidaktahuan umat Islam itu sendiri terhadap konsep makan yang Islam berikan. Kesibukan akan pekerjaan serta beragam aktivitas yang menyita waktu, terkadang membuat kita lupa untuk mengkaji apa yang seharusnya kita pentingkan disamping kehidupan dunia ini. Yang dimana seharusnya kita lebih mendahulukannya mengingat sifatnya yang lebih kekal daripada didunia ini.

Perspektif manusia yang materialistis dan rasional, cenderung untuk memfokuskan perhatiaanya pada apa yang bisa ia lihat dan dapat diterima akal saja. konsep mengenai kehidupan setelah kematian dianggap usang dengan hadirnya science teknologi, yang seharusnya digunakan untuk mengkaji kebesaran Allah, namun sebaliknya telah menafikkan keberadaan Tuhan dan mulai mencoba bermain-main menjadi Tuhan. Orientasi manusia yang sepeti diatas menjadikan manusia mengabaikan akan akhirat serta jalan-jalan menuju keselamatan di akhrirat dan kehidupan yang kekal. Padahal telah disediakan jalan yang membimbing kepada keselematan di sana, dan juga keselamatan di dunia yaitu Islam dengan segala konsep didalamnya.

Faktor lain yang membuat umat Islam memiliki rasa keingintidaktahuan terhadap konsep yang ada dalam Islam, dikarenakan kurangnya rasa sense of belonging (rasa memiliki), izzah, terhadap Islam. Pengaruh terhadap kita selaku umat Islam yang tinggal di sebuah Negara yang majemuk dan mempunyai pemikiran yang majemuk pula, yang memungkinkan banyak pengaruh akibat kemajemukan tersebut serta banyaknya pemikiran-pemikiran yang mempengaruhi kita. Isu-isu yang sering dilontarkan terhadap Islam yang dianggap fundamentalis, radikal, kaku, dll, bahkan teroris. Membuat umat Islam, malu menggengam Islam sebagai cara hidupnya. Mereka malu mengenakan atribut-atribut keIslamannnya, termasuk dalam hal makan disini.

Faktor lain yang memiliki andil besar terhadap tidak terlaksananya konsep-konsep yang Allah berikan adalah adanya pengikisan nilai-nilai atau kosep-konsep Islam, dikarenakan pengaruh dari modernisasi yang disalah artikan. Termasuk dalam konsep makan kita yang dalam keseharian tidak sesuai lagi dengan kosep makan dalam islam. Pengaruh kebudayaan yang majemuk tadi seharusnya dapat kita pilah mana yang terbaik, baik, dan yang tidak baik. Banyak konsep makan yang ditawarkan dari banyak kebudayaan tadi yang bertolak belakang dengan yang Islam ajarkan, penggunaan tangan kiri, makan sembil berdiri, dan lainnya.

Kita seharusnya tidak boleh mengabaikan konsep halal-haram pemakanan, Meskipun dewasa ini kita mungkin memandang agak remeh tentang isu ini. Modernitas yang diidentikan dengan kebudayaan barat, yang seharusnya dibedakan antara modernisasi dan westerenisasi cukup membuat konsep-konsep Islam termakan oleh arus modernitas yang salah tadi. Apa yang ditakutkan ialah hilangnya kesan kepada diri dan identitas umat Islam itu sendiri pada masa akan datang.

 

Pengaruh Iman Terhadap Konsep Makan Seseorang

Memang diketahui secara umum bahwasanya iman merupakan teras pembentukan jiwa dan peribadi diri yang suci lagi murni. Oleh itu, adalah amat penting konsep makan islam disini, yang mampu menjadikan muslim yang hakiki dan sempurna dari semua segi kepribadian manusia. Umat manusia secara umum dan umat Islam secara khusus diperintahkan supaya memakan hanya yang halal, sebagaimana Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 168:

Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.

Jelas, manfaat dari makanan yang halal telah disebut oleh Allah di dalam Al-Quran lebih 1400 tahun yang lampau menunjukkan betapa pentingnya konsep makan secara Islami. terlebih berdasarkan ayat 88 surat Al-Maidah, Allah menegaskan bahaw makan dan minum adalah tanda keimanan seseorang.

Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.

Ayat Ini mengisyaratkan bahwa cara pemilihan makanan dan minuman itu membuktikan nilai iman seseorang. Dan amal perbuatan manusia mengakibatkan tingkat-tingkat ketakwaanya disisi allah sebagaimana dalam ayat dibawah ini

(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha melihat apa yang mereka kerjakan.

 

Konsep Makan Menurut Islam

Adab-Adab Makan

  • Posisi pada saat makan

Sifat duduk Rasulullaah shalallahu ‘alaihi wasallam ketika makan telah diceritakan oleh Abdullah bin Busr radhiallahu ‘anhu:

Nabi memiliki sebuah qas’ah (tempat makan/nampan) dan qas’ah itu disebut Al-Gharra’ dan dibawa oleh empat orang. Di saat mereka berada di waktu pagi, mereka Shalat Dhuha, lalu dibawalah qas’ah tersebut ¬dan padanya ada tsarid (sejenis roti) mereka mengelilinginya. Tatkala semakin bertambah (jumlah mereka), Rasulullah shalallahu‘alaihi wasallam duduk di atas kedua betis beliau. Seorang A’rabi (badui) bertanya: “Duduk apa ini, wahai Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam” Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku dijadikan oleh Allah sebagai hamba yang dermawan dan Allah tidak menjadikan aku seorang yang angkuh dan penentang. {HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah. Shahih}

Kenapa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam duduk dengan jatsa (di atas kedua lutut dan kaki)? Ibnu Baththal mengatakan: “Beliau melakukan hal itu sebagai salah satu bentuk tawadhu’ beliau.” Al Hafidzh Ibnu Hajar juga menerangkan: “…maka cara duduk yang disunnahkan ketika makan adalah duduk dengan jatsa. Artinya duduk di atas kedua lutut dan kedua punggung kaki, atau dengan mendirikan kaki yang kanan dan duduk di atas kaki kiri.”

  • Tidak makan dan minum dengan menggunakan bejana terbuat dari emas dan perak

Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam telah bersabda:

Orang yang minum dari bejana perak, maka sesungguhnya dia telah memasukkan api neraka ke dalam perutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam Hadits yang lain:

“Janganlah kalian minum dari bejana emas dan perak dan jangan pula kalian makan dari piring-piring emas dan perak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

  • Berkumpul Apabila Makan

Dari Wahsyi bin Harb radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya para shahabat Nabi berkata,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya kita makan tapi tidak kenyang”. Beliau   bersabda,”Mungkin saja kalian makan dengan tidak berkumpul?”. Mereka berkata,”Ya”. Beliau SAW bersabda :

Berkumpullah kalian ketika makan, dan sebutlah nama Allah padanya. Maka makanan kalian akan diberkahi” 1

Dan di antara yang menunjukkan atas keberkahan dari berkumpul saat makan adalah apa yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Abu Hurairah radliyalaahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda:

Makanan dua orang cukup untuk tiga orang, dan makanan tiga orang cukup untuk empat orang” 2

Dan riwayat lain dari Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu :

Makanan satu orang mencukupi dua orang, makanan dua orang mencukupi empat orang, dan makanan empat orang mencukupi delapan orang” 3

  • Membaca Bismillah Saat Makan

Telah disebutkan dalam hadits terdahulu :

 Berkumpullah kalian ketika makan dan sebutlah Nama Allah padanya, maka makanan kalian akan diberkahi”.

Oleh sebab itu, meninggalkan tasmiyyah (menyebut nama Allah) ketika makan akan menghalangi hadirnya keberkahan padanya. Sehingga syaithan – semoga Allah melindungi kita darinya – ikut makan, sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim bahwasannya Nabi bersabda : Sesungguhnya syaithan menghalalkan makanan (yang dimakan oleh manusia yang ia mendapatkan bagian daripadanya), kecuali yang disebutkan nama Allah atasnya” 4

Dan di antara yang disebutkan oleh An-Nawawi tentang adab-adab tasmiyyah ini dan hukum-hukumnya, yaitu perkataannya : Para ulama sepakat bahwa tasmiyah saat makan di awalnya adalah mustahab, maka apabila ia meninggalkannya saat di awal makan dengan sengaja maupun tidak sengaja, terpaksa atau tidakmampu karena sebab tertentu, kemudian ia dapat melakukannya pada pertengahan makannya, maka disukai untuk bertasmiyyah dan mengucapkan :

Dengan menyebut nama Allah di awal dan akhir”

Sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Dan mustahab pula mengeraskan tasmiyyah agar ada padanya sebuah peringatan bagi yang lain atasnya dan ia mengikutinya5

 

  • Makan dari Pinggir Piring

Dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma berkata : “Rasulullah SAW bersabda

Keberkahan itu akan turun di tengah-tengah makanan, maka makanlah dari pinggir-pinggirnya dan jangan dari tengahnya6

Dan dari ‘Abdullah bin Busr, bahwasannya didatangkan kepada Rasulullah sebuah Qush’ah (piring), lalu Beliau SAW bersabda :

Makanlah dari pinggirannya dan tingalkanlah (terlebih dahulu) bagian tengahnya (niscaya) akan diberkahi padanya” 7

Dari dua hadits di atas dan yang semisalnya, terdapat petunjuk Nabi Muhammad SAW bagi kaum muslimin ketika makan, yaitu bahwa memulainya dari pinggir-pinggir piring agar berkah yang ada di tengah makanan tersebut tetap ada, dan hendaknya tidak memulai makan dari tengah piring hingga selesai makan yang di pinggirnya terlebih dahulu. Adab ini bersifat umum, baik bagi yang makan sendiriataupun yang makan bersama-sama.

Al-Khiththabi 6 berkata,”Kemungkinan larangan tersebut (makan dari atas piring) apabila makan bersma orang lain, karena penampilan makanannya saat itu adalah yang terbaik dan terindah. Apabila tujuan utamanya adalah agar ia memuaskan diri sendiri, maka hal itu akan memberi kesan yang kurang baik bagi teman-temannya. Oleh karena itu meninggalkan adab-adab makan dan muamalah yang buruk. Namun apabila ia makan sendiri, maka tidak apa-apa. Wallaahu a’lam.

Yang jelas adalah bahwa hal tersebut bersifat umum, karena telah ada larangan dari Nabi dalam dua hadits di atas dengan memakai kata ganti (dlamir) tunggal dan jamak. Kemungkinan maksudnya adalah menjaga keberkahan makanan tersebut agar tetap selalu ada dalam jangka waktu yang lama. Namun bukan hal ini saja (kandungan dari hadits tersebut), tapi di dalamnya terdapat satu adab yang baik, khususnya (etika) ketika makan bersama.

  • Menjilat Jari-Jari Setelah Makan, habiskan makanan di Piring, dan Memakan Makanan yang Terjatuh

Dalam Shahih Muslim dari Anas radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya bila makan pada suatu makanan, beliau menjilat jari-jarinya yang tiga, dan beliau bersabda :

Apabila makanan salah seorang dari kalian jatuh, maka bersihkanlah kotorannya, lalu makanlah dan jangan membiarkannya untuk dimakan oleh syaithan!”. Dan beliau memerintahkan kami untuk memberishkan piring (dengan menghabiskan sisa-sisa makanan yang ada), dan beliau bersabda :

Karena kalian tidak mengetahui di bagian makanan kalian yang manakah keberkahan itu berada”8

Juga dari Abi Hurairah radliyallaahu ‘anhu dari Nabi Muhammad SAW bahwasannya beliau bersabda :

Apabila salah seorang di antara kalian makan, maka jilatlah jari-jarinya, karena ia tidak mengetahui di bagian jari manakah keberkahan itu berada” 9

Dan dalam riwayat lain dari Jabir bin ‘Abdillah radliyallaahu ‘anhu :

Dan janganlah ia membersihkan tangannya dengan sapu tangan/lap, hingga ia menjilat jari-jemarinya”10

Juga hadits-hadits lain yang semisalnya. Hadits-hadits tersebut mengandung beberapa jenis Sunnah dalam makan, yaitu diantaranya anjuran menjilat jari tangan untuk menjaga keberkahan makanan dan sekaligus membersihkannya. Juga anjuran untuk menjilat piring dan makan makanan yang terjatuh setelah membersihkannya dari kotoran yang ada.

Imam Nawawi berkata saat menjelaskan sabda Nabi “Kalian tidak mengetahui di bagian makanan kalian yang manakah keberkahan itu berada”; beliau berkata : “Artinya adalah – wallaahu a’lam – bahwasannya makanan yang disediakan oleh seseorang itu terdapat keberkahan di dalamnya, namun ia tidak mengetahui ada di bagian manakah dari makanannya keberkahan tersebut berada. Apakah pada apa yang telah dimakannya atau pada yang tersisa di tangannya atau ada pada sisa-sisa makanan di atas piring atau pada makanan yang jatuh. Maka seyogyanya semua kemungkinan tersebut harus dijaga dan diperhatikan agar mendapatkan keberkahan makanan. Dan inti dari keberkahan adalah bertambah, tetapnya suatu kebaikan dan menikmatinya. Maksudnya adalah – wallaahu a’lam – apa yang ia dapatkan dari makanan tersebut (untuk menghilangkan lapar), terhindar dari penyakit, dan menguatkan tubuh untuk beribadah kepada Allah, serta hal lainnya” 11

Al-Khiththabi rahimahullah berkata ketika menjelaskan kepada orang-orang yang memandang aib menjilat jari-jemari dan yang lainnya : Banyak dari orang-orang yang hidupnya selalu bersenang-senang dan bermewah-mewah menganggap bahwa menjilat jari adalah hal yang sangat buruk dan jorok. Seolah-olah mereka belum mengetahui bahwa apa yang menempel atau tersisa pada jari-jari dan piring adalah bagian dari keseluruhan makanan yang ia makan. Maka apabila seluruh makanan yang ia makan adalah tidak jorok dan tidak buruk, sudah barang tentu makanan yang tersisa tersebut (yang merupakan bagian dari seluru makanannya) adalah tidak buruk dan tidak jorok pula.

Maka, perhatikanlah bahwa adab-adab dari Nabi tersebut mengandung anjuran untuk memperoleh keberkahan makanan dan mendapatkannya, seperti juga padanya terdapat penjagaan terhadap makanan agar tidak hilang percuma, yang membantu pada penghematan harta dan pemakainnya tanpa mubadzir.

 

  • Keberkahan pada Saat Menakar Makanan

Rasulullah menganjurkan untuk menakar makanan dan beliau berjanji, dengannya akan didapatkan keberkahan padanya dari Allah ta’ala. Terdapat suatu riwayat dalam Shahih Al-Bukhari dari Al-Miqdam bin Ma’dikarib dari Nabi bahwasannya beliau bersabda:

Takarlah makanan kalian, maka kalian akan diberkahi” 12

Menakar hukumnya adalah disunnahkan pada apa yang dikeluarkan seseorang bagi keluarganya. Makna hadits tersebut adalah : Keluarkanlah makanan tersebut dengan takaran yang diketahui yang akan habis pada waktu yang telah ditentukan. Dan padanya terdapat keberkahan yang Allah berikan pada mudd (ukuran dari jenis takaran) masyarakat Madinah, karena doa Nabi. Rahasia dalam takaran tersebut adalah karena dengannya ia dapat mengetahui seberapa banyak yang ia butuhkan dan yang ia harus siapkan.

 

  • Jangan makan makanan yang masih panas

Nabi Muhammad SAW bersabda :

Sesungguhnya (sesuatu) yang lebih banyak barakahnya adalah : Makanan yang telah hilang panasnya”.13

  • Puas dan rela dengan makanan dan minuman yang ada, dan jangan mencelanya

Abu Hurairah Radhiallaahu anhu di dalam haditsnya menuturkan:

Rasulullaah Shallallaahu alaihi wa Salam sama sekali tidak pernah mencela makanan. Apabila suka sesuatu ia makan dan jika tidak, maka ia tinggalkan”. (Muttafaq’alaih).

 

Halal haram Makanan secara zat

Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa makanan mempunyai pengaruh yang dominan bagi diri orang yang memakannya, artinya : makanan yang halal, bersih dan baik akan membentuk jiwa yang suci dan jasmani yang sehat. Sebaliknya, makanan yang haram akan membentuk jiwa yang keji dan hewani. Oleh karena itulah, Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk memilih makanan yang halal serta menjauhi makanan yang haram. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah baik, tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman : “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Dan firmanNya yang lain : “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu”. Kemudian beliau mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit : “Ya Rabbi ! Ya Rabbi! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram,dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do’anya” (Hadits Riwayat Muslim)

 

Allah juga berfirman.

“Artinya : Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” (Al-A’raf : 157)

Makna “ At-Thoyyibaat” bisa berarti lezat/enak, tidak membahayakan, bersih atau halal. Sedangkan makan “Al-Khabaaits” bisa berarti sesuatu yang menjijikan, berbahaya dan haram. Sesuatu yang menjijikan seperti barang-barang najis, kotoran atau hewan-hewan sejenis ulat, kumbang, jangkrik, tikus, tokek/cecak, kalajengking, ular dan sebagainya. Sesuatu yang membahayakan seperti racun, narkoba dengan aneka jenisnya, rokok dan sebagainya. Adapun makanan haram seperti babi, bangkai dan sebagainya.

Sebelum melangkah lebih lanjut, perlu kita tegaskan terlebih dahulu bahwa asal hukum segala jenis makanan baik dari hewan, tumbuhan, laut maupun daratan adalah halal. Allah berfirman.

“Artinya : Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi” (Al-Baqarah : 168)

Tidak boleh bagi seorang untuk mengharamkan suatu makanan kecuali berlandaskan dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang shahih. Apabila seorang mengharamkan tanpa dalil, maka dia telah membuat kedustaan kepada Allah, Rabb semesta alam. FirmanNya.

Artinya : Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan lebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung” (An-Nahl : 116)

Karena asal hukum makanan adalah halal, maka Allah tidak merinci dalam Al-Qur’an satu persatu, demikian juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-haditsnya. Lain halnya dengan makanan haram, Allah telah memerinci secara detail dalam Al-Qur’an atau melalui lisan rasulNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Allah berfirman.

Artinya : Sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkanNya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya” (Al-An’am : 119)

Perincian penjelasan tentang makanan haram, dapat kita temukan dalam surat Al-Maidah ayat 3 sebagai berikut ;

Artinya : Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya” (Al-Maidah : 3)

Dari ayat di atas dapat kita ketahui beberapa jenis makanan haram yaitu :

  • Bangkai

Yaitu hewan yang mati bukan karena disembelih atau diburu. Hukumnya jelas haram dan bahaya yang ditimbulkannya bagi agama dan badan manusia sangat nyata, sebab pada bangkai terdapat darah yang mengendap sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan. Bangkai ada beberapa macam sebagai berikut.

  1. Al-Munkhaniqoh yaitu hewan yang mati karena tercekik baik secara sengaja atau tidak.

  2. Al-Mauqudhah yaitu hewan yang mati karena dipukul dengan alat/benda keras hingga mati olehnya atau disetrum dengan alat listrik.

  3. Al-Mutaraddiyah yaitu hewan yang mati karena jatuh dari tempat tinggi atau jatuh ke dalam sumur sehingga mati

  4. An-Nathihah yaitu hewan yang mati karena ditanduk oleh hewan lainnya

Sekalipun bangkai haram hukumnya tetapi ada yang dikecualikan yaitu bangkai ikan dan belalang berdasarkan hadits.

Artinya : Dari Ibnu Umar berkata: ” Dihalalkan untuk dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai yaitu ikan dan belalang, sedang dua darah yaitu hati dan limpa.” [Shahih. Lihat takhrijnya dalam Al-Furqan hal 27 edisi 4/Th.11]

Rasululah juga pernah ditanya tentang air laut, maka beliau bersabda.

“Artinya : Laut itu suci airnya dan halal bangkainya”.:                                                                                      [Shahih. Lihat takhrijnya dalam Al-Furqan 26 edisi 3/Th 11]

  • Darah

Yaitu darah yang mengalir sebagaimana dijelaskan dalam ayat Al-Quran :

“Artinya : Atau darah yang mengalir” (Al-An’Am : 145)

Diceritakan bahwa orang-orang jahiliyyah dahulu apabila seorang diantara mereka merasa lapar, maka dia mengambil sebilah alat tajam yang terbuat dari tulang atau sejenisnya, lalu digunakan untuk memotong unta atau hewan yang kemudian darah yang keluar dikumpulkan dan dibuat makanan/minuman. Oleh karena itulah, Allah mengharamkan darah pada umat ini.

Sekalipun darah adalah haram, tetapi ada pengecualian yaitu hati dan limpa berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas tadi. Demikian pula sisa-sisa darah yang menempel pada daging atau leher setelah disembelih. Semuanya itu hukumnya halal. Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: ” Pendapat yang benar, bahwa darah yang diharamkan oleh Allah adalah darah yang mengalir. Adapun sisa darah yang menempel pada daging, maka tidak ada satupun dari kalangan ulama’ yang mengharamkannya”.

 

  • Daging babi

Babi, baik peliharaan maupun liar, jantan maupun betina. Dan mencakup seluruh anggota tubuh babi sekalipun minyaknya. Tentang keharamannya, telah ditandaskan dalam al-Qur’an, hadits dan ijma’ ulama. Hikmah pengharamannya karena babi adalah hewan yang sangat menjijikan dangan mengandung penyakit yang sangat berbahaya. Oleh karena itu,makanan kesukaan hewan ini adalah barang-barang yang najis dan kotor.

Daging babi sangat berbahaya dalam setiap iklim, lebih-lebih pada iklim panas sebagaimana terbukti dalam percobaan. Makan daging babi dapat menyebabkan timbulnya satu virus tunggal yang dapat mematikan. Penelitian telah menyibak bahwa babi mempunyai pengaruh dan dampak negatif dalam masalah iffah (kehormatan) dan kecemburuan sebagaimana kenyataan penduduk negeri yang biasa makan babi. Ilmu modern juga telah menyingkap akan adanya penyakit ganas yang sulit pengobatannya bagi pemakan daging babi.

 

  • Sembelihan untuk selain Allah

Yakni setiap hewan yang disembelih dengan selain nama Allah hukumnya haram, karena Allah mewajibkan agar setiap makhlukNya disembelih dengan nama-Nya yang mulia. Oleh karenanya, apabila seorang tidak mengindahkan hal itu bahkan menyebut nama selain Allah baik patung, taghut, berhala dan lain sebagainya , maka hukum sembelihan tersebut adalah haram dengan kesepakatan ulama.

 

  • Hewan yang diterkam binatang buas

Yakni hewan yang diterkam oleh harimau, serigala atau anjing lalu dimakan sebagiannya kemudia mati karenanya, maka hukumnya adalah haram sekalipun darahnya mengalir dan bagian lehernya yang kena. Semua itu hukumnya haram dengan kesepakatan ulama. Orang-orang jahiliyah dulu biasa memakan hewan yang diterkam oleh binatang buas baik kambing, unta, sapi dan lain sebagainya, maka Allah mengharamkan hal itu bagi kaum mukminin.

Al-Mauqudhah, Al-Munkhaniqoh, Al-Mutaraddiyah, An-Nathihah dan hewan yang diterkam binatang buas apabila dijumpai masih hidup (bernyawa) seperti kalau tangan dan kakinya masih bergerak atau masih bernafas kemudian disembelih secara syar’i, maka hewan tersebut adalah halal karena telah disembelih secara halal.

 

  • Binatang buas bertaring

Hal ini berdasarkan hadits :

“Artinya : Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap binatang buas yang bertaring adalah haram dimakan”  (Hadits Riwayat. Muslim)

Maksudnya yakni binatang yang memiliki taring atau kuku tajam untuk melawan manusia seperti serigala, singa, anjing, macan tutul, harimau, beruang, kera dan sejenisnya. Semua itu haram dimakan”. Hadits ini secara jelas menunjukkan haramnya memakan binatang buas yang bertaring bukan hanya makruh saja. Pendapat yang menyatakan makruh saja adalah pendapat yang salah.

Imam Ibnu Abdil Barr juga mengatakan dalam At-Tamhid (1/127): “Saya tidak mengetahui persilangan pendapat di kalangan ulama kaum muslimin bahwa kera tidak boleh dimakan dan tidak boleh dijual karena tidak ada manfaatnya. Dan kami tidak mengetahui seorang ulama pun yang membolehkan untuk memakannya. Demikian pula anjing, gajah dan seluruh binatang buas yang bertaring. Semuanya sama saja bagiku (keharamannya). Dan hujjah adalah sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bukan pendapat orang….”. Para ulama berselisih pendapat tentang musang. Apakah termasuk binatang buas yang haram ataukah tidak ? Pendapat yang rajih bahwa musang adalah halal sebagaimana pendapat Imam Ahmad dan Syafi’i berdasarkan hadits.

“Artinya : Dari Ibnu Abi Ammar berkata: Aku pernah bertanya kepada Jabir tentang musang, apakah ia termasuk hewan buruan ? Jawabnya: “Ya”. Lalu aku bertanya: apakah boleh dimakan ? Beliau menjawab: Ya. Aku bertanya lagi: Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah ? Jawabnya: Ya. 14

Lantas apakah hadits Jabir ini bertentangan dengan hadits larangan di atas? ! Imam Ibnu Qoyyim menjelaskan bahwa tidak ada kontradiksi antara dua hadits di atas. Sebab musang tidaklah termasuk kategori binatang buas, baik ditinjau dari segi bahasa maupun segi urf (kebiasaan) manusia. Penjelasan ini disetujui oleh Al-Allamah Al-Mubarakfuri dan Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani.

 

  • Burung yang berkuku tajam

Hal ini berdasarkan hadits:

“Artinya : Dari Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari setiap hewan buas yang bertaring dan berkuku tajam”  (Hadits Riwayat Muslim)

Imam Al-Baghawi berkata “Demikian juga setiap burung yang berkuku tajam seperti burung garuda, elang dan sejenisnya”. Imam Nawawi berkata: “Dalam hadits ini terdapat dalil bagi madzab Syafi’i, Abu Hanifah, Ahmad, Daud dan mayoritas ulama tentang haramnya memakan binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku.

  • Khimar ahliyyah (keledai jinak)

Hal ini berdasarkan hadits :

“Artinya : Dari Jabir berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang pada perang khaibar dari (makan) daging khimar dan memperbolehkan daging kuda”.  (Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan begini.

“Artinya : Pada perang Khaibar, mereka meneyembelih kuda, bighal dan khimar. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang dari bighal dan khimar dan tidak melarang dari kuda” 15

Dalam hadits di atas terdapat dua masalah : Pertama, haramnya keledai jinak. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan ulama setelah mereka berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas seperti di atas. Adapaun keledai liar, maka hukumnya halal dengan kesepakatan ulama.

Kedua : Halalnya daging kuda. Ini merupakan pendapat Zaid bin Ali, Syafi’i, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan mayoritas ulama salaf berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas di atas. Ibnu Abi Syaiban meriwayatkan dengan sanadnya yang sesuai syarat Bukhari Muslim dari Atha’ bahwa beliau berkata kepada Ibnu Juraij: “Salafmu biasa memakannya (daging kuda)”. Ibnu Juraij berkata: “Apakah sahabat Rasulullah ? Jawabnya : Ya.

 

  • Al-jallalah

Hal ini berdasarkan hadits:

“Artinya : Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah melarang dari jalalah unta untuk dinaiki”. 16

Dalam riwayat lain disebutkan:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memakan jallalah dan susunya.” 17

Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari keledai jinak dan jalalah, menaiki dan memakan dagingnya ” 18

Maksud Al-Jalalah yaitu setiap hewan baik hewan berkaki empat maupun berkaki dua yang makanan pokoknya adalah kotoran-kotoran seperti kotoran manusia/hewan dan sejenisnya. Ibnu Abi Syaiban meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau mengurung ayam yang makan kotoran selama tiga hari.  Al-Baghawi juga berkata: “Kemudian menghukumi suatu hewan yang memakan kotoran sebagai jalalah perlu diteliti. Apabila hewan tersebut memakan kotoran hanya bersifat kadang-kadang, maka ini tidak termasuk kategori jalalah dan tidak haram dimakan seperti ayam dan sejenisnya…”

Hukum jalalah adalah haram dimakan sebagaimana pendapat mayoritas Syafi’iyyah dan Hanabilah. Pendapat ini juga ditegaskan oleh Ibnu Daqiq Al-‘Ied dari para fuqaha’ serta dishahihkan oleh Abu Ishaq Al-Marwazi, Al-Qoffal, Al-Juwaini, Al-Baghawi dan Al-Ghozali. Sebab diharamkannya jalalah adalah perubahan bau dan rasa daging dan susunya.

Apabila pengaruh kotoran pada daging hewan yang membuat keharamannya itu hilang, maka tidak lagi haram hukumnya, bahkan hukumnya halal secara yakin dan tidak ada batas waktu tertentu. Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan: “Ukuran waktu bolehnya memakan hewan jalalah yaitu apabila bau kotoran pada hewan tersebut hilang dengan diganti oleh sesuatu yang suci menurut pendapat yang benar.”. Pendapat ini dikuatkan oleh imam Syaukani dalam Nailul Authar dan Al-Albani dan At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah

 

  • Ad-dhab (hewan sejenis biawak) bagi yang merasa jijik darinya

Berdasarkan hadits :

“Artinya : Dari Abdur Rahman bin Syibl berkata: Rasulullah melarang dari makan dhab (hewan sejenis biawak). 19

Benar terdapat beberapa hadits yang banyak sekali dalam Bukhari Muslim dan selainnya yang menjelaskan bolehnya makan dhab baik secara tegas berupa sabda Nabi maupun taqrir (persetujuan Nabi). Diantaranya , Hadits Abdullah bin Umar secara marfu’ (sampai pada nabi).

“Artinya : Dhab, saya tidak memakannya dan saya juga tidak mengharamkannya.”

(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

 

Demikian pula hadits Ibnu Abbas dari Khalid bin Walid bahwa beliau pernah masuk bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ke rumah Maimunah. Di sana telah dihidangkan dhab panggang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkehendak untuk mengambilnya. Sebagian wanita berkata : Khabarkanlah pada Rasulullah tentang daging yang hendak beliau makan !, lalu merekapun berkata : Wahai Rasulullah, ini adalah daging dhab. Serta merta Rasulullah mengangkat tangannya. Aku bertanya : Apakah daging ini haram hai Rasulullah? Beliau menjawab : “Tidak, tetapi hewan ini tidak ada di kampung kaumku sehingga akupun merasa tidak enak memakannya. Khalid berkata : Lantas aku mengambil dan memakannya sedangkan Rasulullah melihat. (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dua hadist ini serta banyak lagi lainnya sekalipun lebih shahih dan lebih jelas- tidak bertentangan dengan hadits Abdur Rahman bin Syibl di atas atau melazimkan lemahnya, karena masih dapat dikompromikan diantara keduanya.Al-Hafidz Ibnu Hajar menyatukannya bahwa larangan dalam hadits Abdur Rahman Syibl tadi menunjukkan makruh bagi orang yang merasa jijik untuk memakan dhab. Adapun hadits-hadits yang menjelaskan bolehnya dhab, maka ini bagi mereka yang tidak merasa jijik untuk memakannya. Dengan demikian, maka tidak melazimkan bahwa dhab hukumnya makruh secara mutlak.

 

  • Hewan yang diperintahkan agama supaya dibunuh

 

“Dari Aisyah berkata: Rasulullah bersabda: Lima hewan fasik yang hendaknya dibunuh, baik di tanah halal maupun haram yaitu ular, tikus, anjing hitam.” 20

Imam ibnu Hazm mengatakan: “Setiap binatang yang diperintahkan oleh Rasulullah supaya dibunuh maka tidak ada sembelihan baginya, karena Rasulullah melarang dari menyia-nyiakan harta dan tidak halal membunuh binatang yang dimakan”

“Artinya : Dari Ummu Syarik berkata bahwa Nabi memerintahkan supaya membunuh tokek/cecak” 21

Imam Ibnu Abdil Barr berkata : “Tokek/cecak telah disepakati keharamannya”.

 

  • Hewan yang dilarang untuk dibunuh

“Dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah melarang membunuh 4 hewan : semut, tawon, burung hud-hud dan burung surad ” 22

Imam syafi’i dan para sahabatnya mengatakan: “Setiap hewan yang dilarang dibunuh berarti tidak boleh dimakan, karena seandainya boleh dimakan, tentu tidak akan dilarang membunuhnya.” Haramnya hewan-hewan di atas merupakan pendapat mayoritas ahli ilmu sekalipun ada perselisihan di dalamnya kecuali semut, nampaknya disepakati keharamannya.

“Artinya : Dari Abdur Rahman bin Utsman Al-Qurasyi bahwasanya seorang tabib pernah bertanya kepada Rasulullah tentang kodok/katak dijadikan obat, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuhnya” 23

Haramnya katak secara mutlak merupakan pendapat Imam Ahmad dan beberapa ulama lainnya serta pendapat yang shahih dari madzab Syafi’i. Al-Abdari menukil dari Abu Bakar As-Shidiq, Umar, Utsman dan Ibnu Abbas bahwa seluruh bangkai laut hukumnya halal kecuali katak.

 

  • Binatang yang hidup di dua alam

Sebagai penutup pembahasan ini, ada sebuah pertanyaan : “Adakah ayat Qur’an atau Hadits shahih yang menyatakan bahwa binatang yang hidup di dua alam haram hukum memakannya seperti kepiting, kura-kura, anjing laut dan kodok?”. Jawab secara umum : Perlu kita ingat lagi kaidah penting tentang makanan yaitu asal segala jenis makanan adalah halal kecuali apabila ada dalil yang mengharamkannya.

Dan sepanjang pengetahuan penulis yang dikutip dari berbagai sumber, tidak ada dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang shahih yang menjelaskan tentang haramnya hewan yang hidup di dua alam (laut dan darat). Dengan demikian binatang yang hidup di dua alam dasar hukumnya “asal hukumnya adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya.

Adapun jawaban secara terperinci: Kepiting- hukumnya halal sebagaimana pendapat Atha’ dan Imam Ahmad. Kura-kura dan Penyu- juga halal sebagaimana madzab Abu Hurairah, Thawus, Muhammad bin Ali, Atha’, Hasan Al-Bashri dan fuqaha’ Madinah. Anjing laut- juga halal sebagaimana pendapat Imam Malik, Syafi’i, Laits, Sya’bi dan Al-Auza’i . Katak/kodok- hukumnya haram secara mutlak menurut pendapat yang rajih karena termasuk hewan yang dilarang dibunuh sebagaimana penjelasan di atas. Wallahu A’lam

Demikianlah pembahasan yang dapat penulisi sampaikan. Apabila benar, maka itu dari Allah dan apabila salah, maka hal itu karena kemiskinan penulis dari perbendaharaan ilmu yang mulia ini dan penulis menerima nasehat dan kritik pembaca semua.

 

Halal haram makanan dari cara mendapatkannya

Sebagaimana konsep makanan diatas tentang makanan halal, kesemuanya itu akan menjadi sia-sia jika secara zat termasuk namun dari segi cara mendapatkan, makanan tersebut tidak halal. Contohnya adalah makanan itu halal seperti sayur dan daging ayam namun ia memperolehnya tidak halal yakni dengan mencuri atau dengan merampas.

 

Halal haram makanan dari cara mengolahnya

Kembali lagi seperti permasalahan makanan dari segi mendapatkannya, ini juga berlaku dari segi pengolahan. Makanan yang secara zat halal namun cara pengolahannya yang menjadikannya haram, seperti adanya penambahan bahan yang haram sehingga berubah menjadi menjadi haram, atau pemotongan tidak dengan basmallah.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

Kesimpulan

Menurut hadist riwayat Bukhari secara umum iman adalah sesuatu yang diyakini, diucapkan dan dilakukan. belum lengkap atau dikatakan sempurna iman seseorang jikalau belum ada didalamnya tiga pilar tadi. Pelaksanaan pilar ketiga merupakan konsekuensi logis dari pengkuan kita terhadap Allah sebagai Tuhan kita, yaitu dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan yang Allah berikan. Perintah dan larangan merupakan konsep-konsep yang Allah berikan kepada kita manusia. Islam telah mengajarkan, menerangkan tentang konsep makan, baik dari segi zatnya, mendapatkannya, mengolahnya, serta cara mengkonsumsinya.

Melaksanakan konsep yang telah diberikan berarti kita telah menyempurnakan iman kita, dimana salah satu pilar iman selain diyakini dan dikatakan perlu adanya pembuktian (dilakukan). Ini juga berlaku pada konsep makan yang diberikan Allah. Tidak terlaksananya aturan mengenai konsep makan dalam kehidupan sehari-hari terjadi, salah satunya diakibatkan oleh ketidaktahuan atau keingintidaktahuan seseorang akan konsep-konsep makan secara Islami, atau bahkan tahu tapi dalam prakteknya tidak dilakukan. Jelas, manfaat dari makanan yang halal telah disebut oleh Allah di dalam Al-Quran lebih 1400 tahun yang lampau menunjukkan betapa pentingnya konsep makan secara Islami. terlebih berdasarkan ayat 88 surat Al-Maidah, Allah menegaskan bahwa makan dan minum adalah tanda keimanan seseorang.

 

Saran

Seharusnya umat islam mulai merubah orientasi hidup kita sehingga kita juga memperhitungkan, dan memfokuskan terhadap jalan yang disediakan untuk keselamatan dunia dan akhirat tadi, termasuk konsep-konsep yang ada didalamnya. Dengan lebih fokus terhadap jalan tadi diharapkan kita mempunyai rasa ingin tahu dan berimbas pada pemenuhan rasa ingin tahu tadi yakni tahu apa yang ada dalam jalan keselamatan itu (islam), dan dapat memperaktekannnya., ketidaktahuan umat Islam itu sendiri terhadap konsep makan yang Islam berikan. Kesibukan akan pekerjaan serta beragam aktivitas yang menyita waktu, terkadang membuat kita lupa untuk mengkaji apa yang seharusnya kita pentingkan disamping kehidupan dunia ini. Yang dimana seharusnya kita lebih mendahulukannya mengingat sifatnya yang lebih kekal daripada didunia ini.

Dengan mengetahui tentang konsep yang islam punyai ini juga berimbas pada meningkatnya rasa sense of belonging (rasa memiliki), izzah, terhadap Islam. Dan jika kita sudah memiliki rasa tadi, maka kita akan melaksanakan konsep yang diberikan tadi dengan penuh keadaran diri dan juga berusaha mendukung konsep yang dibawa Islam agar tidak punah dan hilang identitas Islam kita.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Al Furqon majalah, Edisi : 12 Tahun II/Rojab 1424. Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Srowo Sidayu Gresik Jatim.

Khalid, Muhammad, 1983, Karakteristik Perihidup 60 Shahabat Rasulullah, Bandung: C.V. Diponegoro.

www.moslemyouth.com

http://www.fiqhislam.malay.com

 

 

1 (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya 4/138 Kitaabul-Ath’imah bab Fii Ijtimaa’ ‘alath-Tha’aam; Ibnu Majah dalam Sunannya 2/1093 Kitaabul-Ath’imah bab Al-Ijtimaa’ ‘alath-Tha’aam; Imam Ahmad dalam Musnadnya 3/501; Ibnu Hibban dalam Shahihnya 7/317 Kitaabul-Ath’imah, Dzikrul-Amri ‘alal-Ijtimaa’ ‘alath-Tha’aam, Rajaa-al-Barakah fil-Ijtimaa’ ‘Alaih).

2 (Shahih Al-Bukhari 6/200 Kitaabul-Ath’imah bab Tha’aamul Waahid Yakfil-Itsnain; dan Shahih Muslim 3/1630 Kitaabul-Asyribah bab Fadliilatul-Muwaasaah fith-Tha’aamil-Qailil wa anna Tha’aamal-Itsnain Yakfits-Tsalatsah wa Nahwa Dzaalik).

3 (Shahih Muslim 3/1630 pada kitab dan bab yang lalu). Imam Nawawi berkata,”Dalam hadits ini terdapat sebuah anjuran agar saling berbagi dalam makanan. Sesungguhnya walaupun makanan itu sedikit, tetapi akan terasa cukup dan ada keberkahan di dalamnya yang diterima oleh seluruh yang hadir”. (Syarhun-Nawawi li Shahiihi Muslim 14/23).

4 (Shahih Muslim 3/1597 Kitaabul-Asyribah bab Aadaabith-Tha’aam wasy-Syaraabi wa Ahkaamuhuma, hadits tersebut memiliki latar belakangnya).

5 (Al-Adzkaar halaman 197 dengan sedikit perubahan. Lihat Syarhun-Nawawi li Shahiihi Muslim 13/188-189).

6 Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi 4/260 Kitaabul-Ath’imah bab Ma Jaa-a fii Karahiyatil-Akli min Wasathith-Tha’aam, ia berkat : “Hadits ini shahih”, dengan lafadh darinya. Diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah dalam Sunannya 2/1090 Kitaabul-Ath’imah bab An-Nahyu ‘anil-Akli min Dzirwatits-Tsariid; Imam Ahmad dalam Musnadnya 1/270; Ad-Darini dalam Sunannya 2/100 Kitaabul-Ath’imah bab An-Nahyu ‘anil-Akli Wasathits-Tsariid Hatta Ya’kula Jawaanibahu; Ibnu Hibban dalam Shahihnya 7/333 Kitaabul-Ath’imah, Dzikrul-Ibtidaa-I fil-Akli min Jawaanibith-Tha’aam.

7 (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya 4/143 Kitaabul-Ath’imah bab Maa Jaa-a fil-Akli min ‘alash-Shahfah. Di dalamnya terdapat kisah latar belakangnya. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dalam Sunannya 2/1090 Kitaabul-Ath’imah bab An-Nahyu ‘anil-Akli min Dzirwatits-Tsariid. Imam Suyuthi menilainya hasan. Al-Jamii’ush-Shaghiir 2/96).

8 (Shahih Muslim 3/1607 Kitaabul-Asyribah bab Istihbaabu La’qil Ashaabi’a wal-Qash’ah wa Aklil-Luqmatis-Saaqithah ba’da Mas-hi ma Yushiibuha min Adzaa wa Karaahiyati Mas-hi Yadd qabla La’qihaa).

9 (Shahiih Muslim 3/1607 pada kitab dan bab yang sama).

10 (Shahiih Muslim 3/1606 pada kitab dan bab yang sama).

11 ( Syarhun-Nawawi li Shahiihi Muslim 3/206, dengan sedikit perubahan).

12 (Shahih Al-Bukhari 3/22 Kitaabul-Buyuu’ bab Maa Yustahabbu minal-Kail). Yang lainnya menambahkan pada akhir hadits : فِيْهِ (padanya). (Sunan Ibnu Majah 2/750-751 Kitaabut-Tijaaraat bab Maa Yurjaa’ fii Kailith-Tha’aam minal-Barakah; Musnad Imam Ahmad 4/131; dan Shahih Ibnu Hibban 7/207).

13 Kualitas hadits : Shahih Hadits ini ditakhrij oleh Ad-Daarimi (2/100), Ibnu Hibban (hadits nomor 1344), Al-hakim (4/118), Ibnu Abid-Dunya dalam Al-Juu’ (2/14), dan Al-Baihaqi (7/280) dari Qurrah bin Abdirrahman dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az-Zubair dari Asma’ bin Abi Bakar radliyallaahu ‘anhuma. Apabila dia (Asmaa’ ) memecahkan (menghaluskan) roti, dia selalu merendamnya ke dalam kuah, sehingga hilang panasnya. Dia berkata,”Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda : [kemudian menyebutkan hadits di atas].

14 [Shahih. Hadits Riwayat Abu Daud (3801), Tirmidzi (851), Nasa’i (5/191) dan dishahihkan Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al- Baihaqi, Ibnu Qoyyim serta Ibnu Hajar dalam At-Talkhis Habir (1/1507)]

15 (Shahih. HR Abu Daud (3789), Nasa’i (7/201), Ahmad (3/356), Ibnu Hibban (5272), Baihaqi (9/327), Daraqutni (4/288-289) dan Al-Baghawi dalam Syarhu Sunnah no. 2811)

16 (Hadits Riwayat. Abu Daud no. 2558 dengan sanad shahih)

17 (Hadits Riwayat. Abu Daud : 3785, Tirmidzi: 1823 dan Ibnu Majah: 3189)

18 (Hadits Riwayat Ahmad (2/219) dan dihasankan Al-Hafidz dalam Fathul Bari 9/648)

19 (Hasan. HR Abu Daud (3796), Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa Tarikh (2/318), Baihaqi (9/326) dan dihasankan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam FathulBari (9/665) serta disetujui oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 2390))

20 (Hadits Riwayat Muslim no. 1198 dan Bukhari no. 1829 dengan lafadz “kalajengking: gantinya “ular”).

21 (Hadits Riwayat. Bukhari no. 3359 dan Muslim 2237).

22 (Hadits Riwayat Ahmad (1/332,347), Abu Daud (5267), Ibnu Majah (3224), Ibnu Hibban (7/463) dan dishahihkan Baihaqi dan Ibnu Hajar dalam At-Talkhis 4/916).

23 (Hadits Riwayat Ahmad (3/453), Abu Daud (5269), Nasa’i (4355), Al-Hakim (4/410-411), Baihaqi (9/258,318) dan dishahihkan Ibnu Hajar dan Al-Albani).

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: