Agama Ke Wilayah Publik (Ragil KPI3A)

 Agama Ke Wilayah Publik

Sejak awal berdirinya negara ini para pendiri atau founding father negara ini mengalami perdebatan tentang bentuk dasar Negara, apakah Indonesia ingin dijadikan sebagai negara Islam atau negara sekuler. Dan dengan alasan persatuan maka jadilah Indonesia sebagai negara sekuler dan sampai sekarang ini dengan tidak mengeskplesitkan Islam dalam dasar negara. Maka terjadilah pada waktu itu pemberontakan yang terjadi di Bandung yang dipimpin oleh Kartoesoewiryo yang menginginkan terbentuknya negara Islam atau negara Indonesia dengan dasar Islam yang menyatukan antara agama dan negara. Dan mungkin sampai saat ini semangat untuk membangun negara Islam masih ada tapi mungkin tujuannya sudah berubah menjadi tujuan yang bermuatan politik dan ekonomi. Dengan dalih itu segelintir kelompok mencari keuntungan misalnya saja N11 atau kelompok lain yang membawa agama untuk kepentingan materi kelompok.

Agama terus merangsuk masuk ke wilayah publik. Berbagai konflik bernuansa agama terus terjadi sejak negara ini didirikan. Konflik itu memuncak di awal reformasi konflik yang bernuansa SARA dan menewaskan lebih dari 1000 orang itu memberikan coretan hitam dalam sejarah Republik ini yang mempunyai ragam agama dan budaya. Kerusuhan Tanjung Priok, Timor-Timur, Poso, Ambon, Sambas, dan lain-lain merupakan sebagia daftar panjang kerusuhan yang dilatarbelakangi oleh konflik agama.

Agama tampak begitu berperan dalam kehidupan manusia. Sebagai sebuah fenomena peran agama harus dirumuskan. Disamping sebagai alat pemersatu, alasan bagi tindakan bermoral, dan juga membawa kedamaian dunia tetapi dilain hal juga agama bisa menciptakan pertikaian, perpecahan, dan eksklusifitas.

Pengaruh agama secara eksplisit dalam negara dan kehidupan politik jelas tidak bisa diterima kerena ini akan memicu diskriminasi dan sektarianisme. Posisi negara disini haruslah netral, bukan berarti meniadakan agama itu sendiri tetap membiarkan , melindungi, dan berlaku adil bagi semua agama yang disahkan undang-undang dan juga penganutnya.

Indonesia adalah negara sekuler yang mayoritas umat Islam dan memiliki 4 agama yang sah dalam undang-undang. Negara Madinah pada masa Rasul, negara Islam yang mempunyai hukum dan berlandaskan Islam tetapi masih melindungi dan mengayomi warga negara selain Islam. Jadi ada beberapa agama pada masa itu di Madinah yang dilindungi penganutnya oleh Rasullah sebagai kepala negara. Dalam hal ini, bentuk negara sekuler yang dipilih oleh founding father untuk negeri ini adalah tepat. Tetapi sekularisme memiliki konsekuensi decline of religion atau menolak adanya agama dan inilah yang harus kita hindari dan harus kita tolak konsekunsi ini.

Negeri ini muncul memang sudah memiliki beraneka ragam ras, agama dan budaya. Jadi sulit jika agama menjadi landasan dasar sebuah negara ini karena adanya pelbagai agama dalam satu negara dan dengan majemuknya masyarakat negeri ini. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita menjaga integritas bangsa dan agar tidak terjadi lagi konflik antar agama.

 OLEH|Muhammad Ragil Indratomo|KPI3A|UINSyahid

Iklan

2 Komentar »

  1. […] Ditulis dalam Tidak terkategori pada 4:57 pm oleh kelompokku Islam Terhadap Pemanasan Global […]


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: