ETOS KERJA (Fahdi KPI3A)

A. Pekerjaan Paling Baik

Terjemah hadist:

Rifa’ah bin Rafi’I berkata bahwa nabi Muhammad SAW. Ditanya “apa mata pencaharian yang paling baik?” Nabi menjawab, “seseorang bekerja dengan tangannya dan tiap-tiap jual beli yang bersih”. (diriwayatkan oleh bazzar dan disahkan oleh hakim).

Penjelasan Hadist

Islam senantiasa mengajarkan umatnya agar berusaha untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak dibenarkan seseorang muslim berpangku tangan saja atau berdoa saja mengharapkan rezeki datang dari langit tanpa mengeringinya dengan usaha. Namun demikian, tidak pula dibenarkan terlalu mengandalkan kemampuan diri sehinggga melupakan pertolongan Allah SWT. Dan tidak mau berdoa kepada-Nya.

Banyak ayat dalam Al-Quran yang memerintahkan manusia untuk bekerja dan memanfaatkan berbagai hal yang ada di dunia untuk bekal hidup dan mencari penghidupan di dunia, diantaranya

surat Al-Jum’ah ayat 10 :

“…Maka bertebaranlah kamu dimuka bumi; dan carilah karunia Allah.”

Lalu surat An-Naba ayat 11:

Dan kami jadikan siang untuk meencari penghidupan.’

Kemudian surat Al-A’raf ayat 10:

Sesungguhnya kami telah menempakan kamu sekalian dimuka bumi dan kami adakan bagimu itu (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersukur.” .

Berdasarkan keterangan diatas menunjukkan bahwa kaum muslim yang menginginkan kemajuan hendaknya harus bekerja keras. Telah menjadi sunnatullah di dunia bahwa kemakmuran akan dicapai oleh mereka yang bekerja keras dan memanfaatkan segala potensinya untuk mencapai keinginannya. Tidak heran jika banyak orang yang tidak beriman kepada Allah SWT, tetapi mau bekerja keras untuk kemakmuran di dunia –walaupun diakhirat ia tetap celaka-, sebaliknya, adapula yang beriman kepada Allah, tetapi tidak mau bekerja dan berusaha sehingga sulit untuk mencapai kemakmuran.

Rizeki yang diusahakan haruslah halal dan tidak semata-mata banyak, tanpa mengindahkan aturan-aturan yang telah ditetapkan. Selain itu bekerjalah sesuai dengan tangannya (usaha) sendiri, kemampuannya, serta keahliannya jauh lebih baik dan utama sebagaimana diterangkan dalam hadist berikut:

Dari Mirqam r.a., Nabi SAW, telah bersabda; “tidaklah seseorang makan sesuatu lebih baik dari pada makanan yang dihasilkan melalui tangannya (usaha) sendiri. Dan sungguh Nabi Daud a.s. telah makan dari hasil tangannya.”

(H.R. Bukhari, Abu Dawud, Nasai, dan lain-lain).

Demikian pula ampunan Allah swt. Senantiasa menyertai orang yang keletihan dalam mencari rizeki, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:

barang siapa merasa letih di malam hari karena bekerja, maka di malam itu ia diampuni.” (H.R. Ahmad)

Selain itu Islam-pun menjamin mereka yang mau bekerja keras dan menyuruh para majikan untuk menghargai kerja keras orang yang bekerja pada mereka:

berikanlah gaji kepada para pekerja sebelum kering keringatnya.” (H.R. Abu Yala)

Diantara hikmah dan rizeki yang dihasilkan melalui usaha sendiri adalah terasa lebih nikmat daripada hasil kerja orang lain. Disamping itu juga dapat menumbuhkan hidup hemat karena merasakan susahnya payahnya mencari rizeki, dilain pihak dengan bekerja sendiri kita menghidarkan dari ketergantungan pada orang lain. Nilai plus yang kita dapatkan lagi dari bekerja bahwa dengan usaha kita tersebut kita diampuni dosa-dosanya sebagaimana hadist sebutkan diatas.

Tujuan bekerja kita disamping menghidupi hidup kita sendiri, tetapi juga membantu memenuhi kehidupan orang lain, dan harta yang dihasilkannya tiada lain adalah untuk bekal hidup di dunia dan dalam rangka mengabdi padanya agar kita juga sukses di akhirat.

Para pedagang yang tidak memiliki ketiga sifat dibawah ini akan menderita kerugian di dunia sekaligus di akhirat

  1. Mulutnya suci dari bohong, laghwu (main-main/bergurau) dan sumpah.

  2. Hatinya suci dari penipuan, khianat, dan iri

  3. Jiwanya selalu memelihara shalat jum’at, shalat berjamaah, selalu menimba ilmu dan mengutamakan rida Allah SWT. Daripada lainnya.

 

B. Larangan Meminta-minta

Terjemah hadist

  1. Ibnu Umar r.a. berkata, “ ketika Nabi SAW berkhotbah diatas mimbar dan menyebut sedekah dan minta-minta, Beliau bersabda, “ tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang dibawah, tangan yang diatas memberi dan tangan yang dibawah meminta-minta.”

  2. Hakim bin Hazim berkata, “Nabi SAW bersabda: “tangan yang diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah. Dan dahulukan keluargamu (orang-orang yang wajib kamu beri belanja), dan sebaik-baiknya sedekah itu dari kekayaan (yang berlebihan), dan siapa yang menjaga kehormatan diri (tidak minta-minta), maka allah akan mencukupinya, demikian pula siapa yang beriman merasa sudah cukup, maka Allah akan membantu memberinya kekayaan.”

( dikeluarkan oleh imam bukhari dalam “kitab zakat “, bab “tidak ada zakat kecuali dari orang yang kaya.”)

  1. Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah SAW. Bersabda: jika seseorang itu pergi mencari kayu, lalu diangkat seikat kayu diatas punggungnya (yakni untuk dijual di pasar), maka itu lebih baik bagimu daripada meminta-minta kepada seseorang baik diberi atau tidak.”

(dikeluarkan oleh imam bukhari dalam kitab:”jual beli buyu”, bab “ kasab seorang laki-laki dan bekerja dengan tangannya sendiri.”)

 

Islam sangat mencela orang yang mampu untuk berusaha dan memiliki badan yang sehat, tetapi tidak mau berusaha, melainkan hanya menggantungkan hidupnya pada orang lain. Misalnya, dengan cara meminta-minta. Keadaan seperti itu tidaklah sesuai dengan sifat Islam yang mulia dan memiliki kekuatan, sebagaimana dinyatakan dalam Qur’an:

kekuatan itu bagi allah dan rasulnya dan bagi kaum mukminin.” (Q.S. Munafiqun ayat 8)

Dengan demikian, seorang peminta-minta, yang sebenarnya mampu mencari kasab dengan tangannya, selain telah merendahkan dirinya, Ia-pun secara tidak langsung telah merendahkan ajarannya agamnya yang melarang perbuatan tersebut. Bahkan ia dikategorikan kufur nikmat karena tidak menggunakan tangan dan anggota badannnya untuk berasaha dan mencari rizeki sebagaimna diperintahkan syara’. Padahal Allah pasti memberikan rizeki kepada setiap mahluknya yang berusaha.

dan tidak ada suatu binatang melatapun dimuka bumi melainkan allah yang memberi rizekinya, dan dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam kitab yang nyata(lauh mahfuzh).”  (Q.S. Huud ayat 6)

Dalam ketiga hadist diatas dinyatakan secara tegas behwa tangan orang yang diatas (pemberi sedekah) lebih baik daripada tangan yang di bawah (yang diberi). Dengan kata lain, derajat pembeli lebih tinggi daripada derajat peminta-minta. Maka seyogyanya bagi setiap umat Islam yang memiliki kekuatan untuk mencari rizeki, berusaha untuk bekerja apa saja yang penting halal. Walaupun suatu pekerjaan dipandang hina dalam pandangan manusia, seperti dicontohkan dalam hadist: orang yang bekerja sebagai tukang kayu, tentu saja penghasilannya tidaklah besar, tetapi pekerjaan ini lebih mulia dibandingkan peminta-minta yang menggantungkan hidupnya kepada orang lain, yang mungkin penghasilannya dari meminta-minta lebih besar dari si tukang kayu. Padahal harta yang diperoleh dengan cara seperti ini sama dengan mengumpulkan bara apa, sebagaimana Rasulullah bersabda.

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: “siapa yang meminta-minta untuk memeperbanyak kekayaannnya, ia tiada lain hanya memperbanyak bara api. Maka terserah padanya, apakah ia akan mengurangi atau memperbanyaknya.” (H.R. Muslim)

Dalam hadist diataspun disunggung tentang etika memberikan bantuan kepada orang lain, yaitu mengutamakan keluarga dan kerabat terdekat, dan seterusnya. Selain itu, barang yang diberikan haruslah merupakan rizeki yang lebih. Dengan kata lain, tidak mengutamakan memberi kepada orang lain sementara dirinya dan keluarganya kelaparan. Bagi orang yang selalu membantu orang lain, disamping akan mendapatkan pahala kelak diakhirat, Allah juga akan mencukupkan rizekinya didunia.

Adanya kewajiban berusaha bagi manusia, tidak berarti bahwa Allah swt. Tidak berkuasa untuk mendatangkan rizeki yang begitu saja kepada manusia, ini dimaksudkan agar manusia menghargai dirinya sendiri dan usahanya, sekaligus agar tidak berlaku semena-mena atau melampaui batas, sebagaimana tercantum dalam qur’an:

seandainya Allah melapangkan rizeki kepada hambanya pasti mereka melampaui batas (bejat moral). Akan Tetapi, Dia mahabijaksana dan memerintahkan manusia untuk berusaha agar manusia tidak banyak berbuat kerusakan.”  (Q.S. Asy-Syuara ayat 27)

 

C. Mukmin Yang Kuat Mendapat Pujian

Abu Hurairah r.a. berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “ orang yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah dan dalam segala sesuatu, ia dipandang lebih baik. Raihlah apa yang memeberikan manfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allah. Janganlah berkata; kalau aku berbuat begini dan begitu, pasti begini begitu, tetapi katakanlah; Allah SWT, telah menentukan dan Allah menghendaki aku untuk berbuat karena (kata) ‘kalau’ akan mnedorong pada perbuatan syeitan”. (H.R. Muslim)

Hadist diatas mengandung tiga perintah dan dua larangan yaitu sebagai berikut

  1. Memperkuat iman, keimanan seseorang akan membawa kepada kemuliaan baginya, baik didunia maupun diakhirat. Kalau keimanannya kuat dan selalu diikuti dengan melakukan amal saleh, ia akan mendapatkan manisnya iman, sebagaimana firman Allah:

barang siapa yang mengerjakan amalan saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang kamu kerjakan.”

(Q.S. An-Nahl ayat 97)

     Setiap orang memiliki tingkat keimanan yang berbeda-beda, tentu saja orang yang kuat imannya lebih baik daripada orang yang lemah imannya. Hal ini, karena orang yang kuat imannya akan berusaha untuk menjadikan segala aktifitas kehidupaannya dalam kebaikan. Kuat dan lemahnya mukmin, selain dapat berarti dari perbuatan yang dilakukannnya, dapat juga dipahami dalam realitas kehidupan. Misalnya, dilihat dari segi kekuatan fisik, ia tidak loyo, selalu tegar dan lain-lain, dilihat dari segi pikiran ia kuat dan cerdas. Seorang mukmin yang badan dan fikirannya kuat dan menggunakan kekuatannnya itu untuk beribadah dan membela agamanya dan lebih baik daripada mukmin yang lemah sehingga tidak dapat berjuang untuk menegakkan agama Allah

  1. Perintah untuk memenfaatkan waktu, Rasulullah SAW, menginginkan agar umatnya mendapat kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Oleh karena itu, Beliau memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan waktu seefektif mungkin bagi kegiatan-kegiatan yang bermanfaat, baik untuk kehidupan di dunia dan diakhirat.

Dalam kehidupan dimasyarakat, orang-orang yang sukses dan berhasil dalam hidupnya adalah mereka yang senantiasa menggunakan waktunya untuk kegiatan yang bermanfaat dan selalu serius dalam mengerjakan sesuatu. Mereka mengangggap bahwa waktu adalah uang. Dan bagi mereka yang tidak memanfaatkan waktu , tidak pulalah mendapatkan kebahagiaan bahkan akan tergilas laju zaman, sebagaimana pepatah arab:

waktu itu bagaikan pedang, jika kamu tidak memanfaatkannya (menggunakannya untuk memotong), ia akan memotongmu.”

berhenti tidak ada tempat untuk jalan ini dan sikap lamban berarti mati. Mereka yang bergerak akan maju ke muka, sedangkan mereka yang menunggu sekalipun sejenak pasti tergilas”

  1. Memohon pertolongan Allah, manusia hanyalah diwajibkan untuk berikhtiar, sedangkan yang menentukan keberhasilannya hanya Allah SWT. Orang mukmin sangat ditekankan untuk memperbanyak do’a agar Allah SWT menolongnya. Dalam setiap hendaklah membaca:

hanya kepada-Mu Aku beribadah dan hanya kepadaMu Aku memohon pertolongan.” (Q.S. Al-Fatihah ayat 5)

     Dalam ayat tersebut, pernyataan beribadah disejajarkan dengan memohon pertolongan, orang-orang yang hanya beribadah saja, namun tidak pernah memohon pertolongan, keimanannya masih dipertanyakan. Ini karena ia dianggap orang sombong yang tidak memerlukan pertolongan Allah. Seseorang tidak akan mencapai kesuksesan, tanpa adanya kekuasaan dan kehendak Allah SWT. Namun demikian, Allah SWT tidak akan menyia-nyiakan usaha dan pekerjaan seseorang.

 

  1. Larangan membiarkan kelemahan, telah dijelaskan diatas bahwa Islam sangat menganjurkan umatnya untuk berusaha dan bekerja sehingga menjadi orang yang kuat dalam berbagai hal, baik iman, jiwa, badan, harta, dan sebagainya. Kelemahan seseorang berawal dari kemalasan. Orang menjadi bodoh karena malas mencari ilmu; orang yang lemah badannnya karena ia tidak rajin berolahraga; orang yang miskin hartanya kerena ia tidak mau bekerja, dan lainnya. Berkaitan dengan ini Allah telah berfirman :

sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaannnya.” (Q.S. Ar-Ra’du 11)

 

  1. Larangan untuk menyatakan “kalau” (seandainya begini dan begitu pasti hasilnya begini dan begitu). Dalam berusaha, tidak dapat dipastikan bahwa selamanya berhasi. Sesekali seseorang mendapat kegagalan dan kemujuran, Islam menganjurkan untuk menyeraahkan sepenuhnya kepada Allah SWT.

Karena hal itu sudah menjadi kehendaknya dan manusia hanyalah berusaha untuk berikhtiar. Pernyataan “kalau begini dan begitu” merupakan godaan syeitan untuk mendahului kehendak Allah SWT. Bahwa suatu usaha akan berhasil jika Allah tidak menghendaki keberhasilannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: