Agama Dan Sistem Sosial Budaya (David KPI3A)

 

Agama

Kajian mengenai agama sebenarnya sudah sangat tua dan telah ada sejak zaman filosof Yunani dan Romawi. Namun, kajian mengenai agama terlalu didominasi oleh teologi dan humanitas yang berperspektif agama Kristen sehingga Aquinas mengemukakan bahwa teologi adalah queen of sciences (Boume 1965). Secara historis, munculnya studi agama bermula dari ekspedisi Barat (Ilmuwan Eropa dan Amerika) terhadap dunia lain.

Mereka mendapatkan bahwa masyarakat dunia lain ternyata memiliki budaya dan agama yang berbeda yang menjelaskan hal yang sama tentang yang sakral. Hal ini pada akhirnya memunculkan suatu minat untuk membandingkan antara kebudayaan dan agama yang satu dengan kebudayaan dan agama lainnya menurut kacamata Barat. Hal ini ditandai dengan munculnya disiplin comparative religion yang kemudian berubah menjadi historical religion dengan dipelopori Max Muller. Istilah tersebut yaitu comparative religion dan historical religion terasa berbau etnosentris Barat dalam mengkaji budaya dan agama lain terutama timur. Swidler dan Mojzes (2000:57–58) berpendapat agar disiplin baru ini terlihat inklusif dan luas, dinamai dengan istilah studi agama (study of religion).

Studi agama tersebut—seperti yang dikemukakan Ninian Smart muncul sejak tahun 1960-an yang merupakan perpaduan antara studi-studi historis, ilmu perbandingan, dan ilmu sosial yang berpuncak pada filsafat agama. Meskipun terjadi perdebatan mengenai tempat studi agama: apakah dalam departemen teologi atau ilmu sosial, mayoritas ilmuwan pada akhirnya menempatkannya dalam departemen cultural studies. Dalam hal ini, studi agama mencakup berbagai metode dan pendekatan dari berbagai disiplin ilmu

Tujuh pendekatan dalam studi agama yang sering digunakan, yaitu: pendekatan antropologis, feminis, fenomenologis, filosofis, psikologis, sosiologis, dan teologis. Ketujuh pendekatan studi agama tersebut ditulis oleh tujuh orang yang memiliki otoritas keilmuan di bidangnya masing-masing. Seluruh pendekatan ini berupaya—dengan caranya sendiri—untuk memetakan—paling tidak sebagian—wilayah agama Untuk membantu dalam memahami dan mengkaji masing-masing pendekatan.

 

 

Seperangkat alat untuk membantunya, yaitu:

  • Menguraikan definisi agama sebagai berbagai keyakinan yang mencakup penerimaan pada yang suci (sacred), wilayah transempiris, dan berbagai perilaku (spiritualitas) yang dimaksudkan untuk mempengaruhi relasi seseorang dengan wilayah transempiris itu. Agama dapat bersifat komunal dan individual seperti yang terkandung dalam semua pendekatan

  • Perkembangan historis, karakteristik dasar, persoalan dan perdebatan, kecuali pendekatan teologis yang ditulis dengan sistematika tersendiri; dan

  • Digunakannya sistem cross-reference (penunjukan silang) antartulisan dimaksudkan guna memberikan kesempatan pada pembaca menyelidiki posisi pemikir-pemikir atau ide-ide kunci dalam berbagai disiplin. Selain ketiga ciri di atas,

 

David N. Gelner menguraikan tentang pendekatan antropologis. Dalam pendekatan antropologi ini, agama dilihat sebagai suatu sistem budaya. Gelner memulai dengan memperkenalkan perspektif dan contoh penelitian yang telah dilakukan oleh aliran evolusionis, seperti Frazer dan Durkheim dalam meneliti agama pada masyarakat terbelakang pada abad ke-19. Ia melanjutkan uraiannya dengan aliran partikularisme historis Franz Boas yang menekankan metode penelitian lapangan yang detil; fungsionalisme dan strukturalisme fungsional Malinowski dan Radcliffe Brown. Gelner juga memaparkan perspektif antropologi yang lebih kontemporer yaitu Strukturalisme Levi-Strauss, interpretivisme Clifford Geertz, hingga antropologi feminis yang diwakili Lynn Bennet.

Gelner menguraikan karakteristik dasar pendekatan antropologi, di antaranya: holisme, dalam pengertian bahwa agama tidak bisa dilihat sebagai sistem otonom yang tidak terpengaruh oleh praktik-praktik sosial lainnya ; juga thick description yang diperkenalkan Geertz. Di akhir tulisan, Gelner menguraikan 6 persoalan yang menjadi perdebatan dalam karya-karya antropologis, yaitu:

  • apakah ada suatu wilayah keagamaan yang transkultural atau spiritual yang dipahami oleh manusia seluruh dunia dengan cara yang berbeda-beda?;

  • apakah seluruh agama pada dasarnya harus diinterpretasikan dengan cara yang sama atau tidak?;

  • apakah agama bersifat konservatif atau revolusioner?;

  • sejauhmanakah seseorang dapat melihat keyakinan keagamaan orang lain tampak dapat dipahami dan rasional?;

  • apakah agama memberikan jalan keluar yang memperoleh dukungan secara cultural dalam arti kebudayaan lain menganggapnya sebagai bentuk patologi atau bentuk personalitas yang anti sosial?; dan

  • dalam agama-agama yang memiliki kitab suci, seberapa relevan kitab-kitab itu untuk memahami keyakinan-keyakinan pengikutnya yang awam?

 

Klasifikasi Agama

Ada berbagai cara menggolongkan agama-agama dunia. Ernst Trults seorang teolog Kristen menggolongkan agama-agama secara vertikal: pada lapisan paling bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama pembebasan, yaitu Hindu, Buddha dan karena Ernst Trults adalah seorang Kristen, maka agama Kristen adalah puncak dari agama-agama pembebasan ini.

Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya; “Hindu View of Christianity and Islam” menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam secara spiritualitas dan membawa kedamaian.

Ada yang menggolongkan agama-agama berdasarkan wilayah dimana agama-agama itu lahir, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi sekarang disebut juga Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto). Ada pula yang menggolongkan agama sebagai agama langit (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama bumi (Hindu, Buddha, dll.) Penggolongan ini paling disukai oleh orang-orang Kristen dan Islam, karena secara implisit mengandung makna tinggi rendah, yang satu datang dari langit, agama wahyu, buatan Tuhan, yang lain lahir di bumi, buatan manusia. Penggolongan ini akan dibahas secara singkat di bawah ini.

Agama bumi dan agama langit. Dr. H.M. Rasjidi, dalam bab Ketiga bukunya “Empat Kuliah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi” membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu agama-agama alamiah dan agama-agama samawi. Agama alamiah adalah agama budaya, agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Hindu dan Budha. Mengenai agama Hindu Rasjidi mengutip seorang teolog Kristen, Dr. Harun Hadiwiyono, Rektor Sekolah Tinggi Theologia “Duta Wacana” di Yogyakarta sebagai berikut: “Sebenarnya agama Hindu itu bukan agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu sebenarnya adalah satu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi jaman sejak kira-kira 1500 S.M hingga jaman sekarang.

Dalam perjalanannya sepanjang abad-abad itu, agama Hindu berkembang sambil berobah dan terbagi-bagi, sehingga agama ini memiliki ciri yang bermacam-macam, yang oleh penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi kadang-kadang tidak diindahkan sama sekali. Berhubung karena itu maka Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu itu sesungguhnya adalah satu proses antropologis, yang hanya karena nasib baik yang ironis saja diberi nama agama.” Samawi artinya langit. Agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam.

 

Pengaruh Agama Terhadap Sistem Sosial Budaya

Struktur peter M Blau, menyatakan bahwa struktur sosial adalah penyebaran secara kuantitatif warga komunitas didalam berbagai posisi sosial yang berbeda yang mempengaruhi hubungan di antara mereka. Karakteristik pokok dari struktur yaitu adanya berbagai tingkat ketidaksamaan atau keberagaman antar bagian dan konsolidasi yang timbul dalam kehidupan bersama, sehingga mempengaruhi derajat hubungan antar bagian tersebut yang berupa dominasi, eksploitasi, konflik, persaingan, dan kerjasama.

Selanjutnya Blau mengelompokkan parameter nominal dan gradual. Parameter nominal membagi komunitas menjadi sub-sub bagian atas dasar batas yang cukup jelas, seperti agama, ras, jenis kelamin, pekerjaan, marga, tempat kerja/tinggal, afiliasi politik, bahasa nasionalitas, dan sebagainya. Kalau dicermati pengelompokkan ini bersifat horizontal, dan akan melahirkan berbagai “golongan”.

Adapun parameter gradual membagi komunitas kedalam kelompok sosial atas dasar peringkat status yang menciptakkan perbedaan kelas, seperti pendidikan, pendapatan, kekayaan, prestise, kekuasaan, kewibawaan, intelegensia, dan sebagainya. Jadi pengelompokkan ini bersifat vertical, yang akan melahirkan berbagai “lapisan”. Atas dasar struktur sosial yang dikemukakan Blau di atas, dapat disebutkan behwa interaksi antar bagian dalam kehidupan bersama dapat terjadi antar kelompok, baik atas dasar parameter nominal atau gradual.; bahkan tidak hanya secara internal tetapi juga secara eksternal. Interaksi antar bagian dalam kehidupan sosial, atas anggota dari berbagai “golongan” dan “lapisan” tadi.

Sementara itu berdasarkan konsep parson (1951). Setiap sistem sosial diperlukan persyaratan fungsional. Diantaranya dijelaskan bahwa sistem social harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan dengan tuntutan transformasi pada setiap kondisi tindakan warga (adaptation). Berikutnya, tindakan warga diarahkan untuk mencapai tujuan bersama (goal attainment). Kemudian persyaratan lain adalah bahwa dalam interaksi antar warga setidaknya harus ada suatu tingkat solidaritas, agar struktur dan sistem sosial berfungsi (integration).

Salah satu yang menetukan sistem sosial budaya yang ada dimasyarakat adalah agama. Agama dapat menetukan sistem sosial budaya yang ada dimasyarakat, contoh : sistem kasta yang ada pada agama hindu. Pada sistem kasta interaksi antar golongan yang tersekat ini telah diatur dalam tata caranya sendiri, bagaimana bersikap, dan bertingkahlaku terhadap golongan lainnya telah diatur dalam agama. Contoh lain pengaruh agama dalam sistem social budaya adalah diadaptasikannya aturan-aturan agama dalam hukum dan tata aturan dimasyarakat seperti syariat Islam di NAD. Selain itu agama juga berpengaruh dalam berbagai aspek kehidupan sosial budaya antara lain; sistem perkawinan, sistem kekerabatan, sopan santun, dan lainnya.

Sistem atau pola sosial selalu bisa berubah bahkan yang dianggap didasarkan pada agama, Contoh kasus : Beberapa orang tertentu, memutuskan untuk tidak melaksanakan ritual-ritual yang menurutnya bid’ah meskipun mereka mengetahui juga, bahwa tindakan ini bertentangan dengan pola-pola yang berlaku mengenai konsep beragama yang layak pada masyarakat. Tapi ketika banyak orang yang tidak melakukan ritual-ritual telah dianggap biasa, maka pola-pola yang berlaku mengenai konsep beragama yang layak bagi orang tersebut telah berubah. Apabila tingkah laku yang digariskan oleh pola-pola terlalu kurang dapat menguntungkan untuk menghadapi keadaan yang aktual, maka pola-pola sendirilah yang akan berubah. Jika tidak demikian, maka pola-pola tersebut akan lebih merupakan penghalang daripada menguntungkan masyarakat.

 

Institusi Sosial Dan Kaitannya Dengan Struktur Dan Fungsi

Bronislaw Malinowski dalam membuat deskripsi tentang etnografi, sedapat mungkin menerapkan teori fungsional, meskipun tidak semuanya berhasil. Menurutnya, manusia dalam memenuhi kebutuhan secara individual, tetapi melalui kehidupan bersama (sosial) secara terorganisasi atau tertata dalam hukum atau nilai-nilai tertentu. Sehubungan dengan itu, tujuan akhir yang akan mereka capai adalah kesepakatan nilai-nilai umum yang berlaku.

Semua ini menurut Malinowski disebut charter, yang diartikan sebagai suatu sistem yang terorganisasi tentang aktifitas-aktifitas sosial yang penuh tujuan yang didasarkan atas nilai umum dan kesepakatan bersama. Sistem nilai dan tujuan bersama ini dapat diartikulasikan secara lebih kongkrit menjadi norma. Prinsip-prinsip integrasi akan tercermin dalam institusi sosial, dan inilah kebutuhan dasar manusia. prinsip-prinsip integrasi ini merupakan bagian dari kebutuhan dasar itu sendiri. Sementara itu responnya adalah kebudayaan yang diwujudkan dalam institusi-institusi sosial. Kebudayaan sebagai respon dari kebutuhan dasar dapat didindikasikan sebagai instrumen untuk mencapai tujuan, sehingga memuaskan kebutuhan dasar tersebut.

Radcliffe Brown dengan pendekatan antropologi sosialnya ternyata seperti metode yang diterapkan dalam ilmu alam atau fisika. Dengan pendekatan komparasi untuk memperoleh pemahaman tentang keseluruhan komunitas. Adapun hal yang dikomparasikan adalah struktur keseluruhan komunitas dan bukan bagian-bagian. Dan didalam mempelajari relasi sosial apakah ia dihubungkan dengan masyarakat, kebudayaan atau community, dapatlah dibedakan mengenai strukturnya, fungsinya, dan organisasinya (institusi). Adapun yang dimaksud aspek struktural dari pada relasi sosial adalah prinsip-prinsip yang merupakan landasan dari bentuk, dan yang dimaksud dengan aspek fungsionil dari pada relasi sosial adalah cara sesuatu tujuan itu dicapai, sedangkan yang dimaksud aspek organisasi (institusi) dari pada relasi sosial adalah aktifitas yang menunjuk gerak ke satu arah.

Radcliffe-Brown berpendapat, bahwa struktur atau sistem sosial dari satu masyarakat itu ada dibelakang aktivitas individu-individu di dalam masyarakat. Yang dimaksud struktur sosial adalah jaringan-jaringan yang kompleks dari relasi sosial yang ada secara kongkrit di dalam masyarakat. Mengingat agama dapat ber-pengaruh pada sistem sosial sudah pasti agama juga berpengaruh pada fungsi dan institusi sosial.

Fungsi seseorang dalam masyarakat juga telah diatur dalam agama, kasus ini telah terjadi pada beberapa kebudayaan yang telah mengadopsi agama dalam menentukan fungsi seseorang serta tanggung jawabnya. Fungsi yang dijalankan seseorang bergantung dari pada seluruh status yang dibebankan padanya, seorang David adalah kombinasi semua status yang ditempatinya sebagai pemeluk agama Islam, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, sebagai warga Indonesia, dan sebagai suami dari nyonya David. Fungsi yang dibebankan pada pemeluk agama islam yang menjadi status David disini menghasilkan konsekuensi yang dibebankan agama terhadap pemeluknya; seperti beribadah.

Ketika sudah ada sistem yang bekerja dalam masyarakat maka haruslah ada pengawas daripada sistem tersebut disinalah dibutuhkan institusi/organisasi sosial yang bertugas sebagai pelaksana dan pengatur sistem tadi contoh lembaga-lembaga itu adalah dewan adat, MUI, dll. Pengawas dan pelaksana sistem tadi tidak hanya bersifat atau berupa badan yang mempunyai kuasa, tetapi juga perorangan atau kelompok yang dianggap berwenang.

Iklan

1 Komentar »

  1. […] Agama Dan Sistem Sosial Budaya […]


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: